Wednesday, June 21, 2017

Belle






Kisah ini adalah tentang Belle, seekor anjing betina yang pernah kupelihara dan menjadi bagian keluargaku sekitar tahun 2004-2007. Ini adalah pengalaman pertamaku memelihara anjing. Semula aku malah takut anjing. Tapi Belle mengubah semua itu.
Karena aku sangat menyayanginya, dan dia banyak membawa kegembiraan dalam hidupku, aku jadi mampu menuliskan kisahnya seperti ini.
Kini Belle sudah tidak bersama kami lagi. Tapi kenangannya akan tetap hidup dalam kisah ini.
Dan aku membagi kisah Belle ini untuk anak-anak di dunya. Dan ingin mereka bisa melihat bahwa hewan juga adalah teman yang dapat mewarnai hidup dan membantu kita menjalani hidup ini. Dengan memberi kegembiraan yang tulus dan mengajari kita bertanggung jawab.
Semoga kisah Belle akan membuat setiap anak dapat melihat kebenaran sederhana dalam hidup bahwa hidup ini sungguh berwarna, dan pelajaran hidup juga bisa didapat dari kejadian sederhana dan menyenangkan seperti memelihara hewan.
Kisah ini sesungguhnya telah selesai kutuliskan tanggal 13 November 2006, tapi baru sekarang aku punya kesempatan untuk menjadikannya buku.
Semoga bermanfaat dan selalu, semoga Dia memberkati.

This story is about Belle, dog that I once lived and became part of my family around 2004-2007. This is my first experience have a dog. I was very afraid of dog before. But Belle changed all that. 
Because I love her so much, and she bring a lot of joy in my life, I'm able to write her story like this.Now Belle is not with us anymore. But the memories of her would stay alive in this story.And I share this Belle story for all children in dunya. And want them to see that pet are also friend who could make life colorful and help us live this life happily. By giving genuine joy and teaching us to be responsible. 
Hopefully the story of Belle would make every child able to see the simple truth in life that life is already colorful, and life lesson could also be obtained from simple and fun event such as 'have dog'. 
Actually I finished this story  on November 13, 2006, but only now I have chance to make it a book. 
Hopefully it would be useful and always, may He bless.



Samarinda, 21 Juni 2017
Dharmaisra Shree Chandranaya Scekar Mayananda Bhairavi

Penggantian ongkos cetak -- reimbursement printing cost : Rp. 15.000,- 

Suri



Kisah ini adalah ungkapanku tentang suasana masa kecilku. ‘Suri’ berkisah tentang keseharianku menjalani masa kecilku di kota Banjarmasin Kalimantan Selatan sekitar tahun 1976-1980. Tentang pengalamanku dan proses belajar hidup dari kehidupan yang  kulalui secara sederhana. ‘Suri’ berkisah tentang seorang anak biasa di keluarga biasa di lingkungan yang biasa pula.  
Kisah ini ditujukan untuk pembaca usia TK sampai dengan kelas 3 SD, jadi sekitar usia 5 sampai 10 tahun. Meskipun tidak menutup kemungkinan anak dengan usia lebih tinggi atau lebih rendah juga menyukainya.
Kelebihan dari buku ini adalah kesederhanaannya, dimana dengan kesederhanaan itu proses belajar anak terjadi tanpa terasa menggurui. Pengetahuan dan pemahaman diberikan dalam bentuk kisah sederhana tentang kejadian sehari-hari. Hanya mengajak pembacanya menyadari kejadian-kejadian sederhana yang terjadi di sekitarnya. Dan mengambil pelajaran dari kejadian-kejadian itu sesuai dengan usia dan kemampuan anak dalam memahaminya.
Pada akhirnya aku berharap buku ini akan memberi warna baru pada jenis buku cerita anak yang sudah tersedia selama ini.
Sebenarnya aku sudah menyelesaikan naskah cerita anak ini tanggal 4 September 2007. Sempat juga mengirimkannya ke penerbit yang tentu saja tidak mendapat tanggapan. Tapi kini aku sudah dapat melihat rencanaNya . Jadi penolakan itu tidak pernah mengganggu pikiranku lagi.
Dulu di tahun 2003 – 2007, saat aku sedang sangat aktif menulis, aku kadang kecewa karena naskahku –yang menurutku sudah sangat bagus—ditolak penerbit. Belakangan, saat aku sedang sibuk berguru, baru ada penerbit yang tertarik dengan naskahku. Penerbit luar negeri lagi. Tapi, aku sudah tidak berminat lagi. Aku sudah mengerti rencanaNya. Jadi, inilah sekarang rupanya—rencanaNya—yang ternyata menjadi caraku berbagi apa yang mampu kulakukan pada dunya.
Jadi, inilah hadiahku untuk anak-anak di dunya. Mari melihat dunia ini secara sederhana. Karena rahasia terbesar yang selalu dicari orang sepanjang masa, sebenarnya terhambur dalam keseharian hidup kita, yang kita jalani dengan bersahaja. Dalam kesederhanaan rahasia terbentang.

Dan selalu, Dia memberkati

 This story is my expression of my year of childhood. 'Suri' told about my daily life through my year of childhood in Banjarmasin, South Kalimantan circa 1976-1980. About my experience and my process of learning life by passing simply life. 'Suri' is about an ordinary child in an ordinary family in an ordinary childhood. 
This story is intended for reader of kindergarten age up to grade 3 elementary school, so around the age of 5 to 10. Although it is possible that children of higher or lower age would also love it. 
The advantage of this book is its simplicity, where with the simplicity, children would learn without being patronizing. Knowledge and understanding are given in the form of simple stories of everyday event. Just invite reader to realize the simple event that occur in the vicinity. And take lesson from event according to the age and ability of the child in understanding it. 
In the end I hope this book will give a new sight to the children's story book that have been available so far.Actually I've finished the script of this story on September 4, 2007. Had also sent it to the publisher which-- of course did not get a response. But now I knew His plan. So the rejection never bothered me again. 
Back in 2003 - 2007, when I was very actively writing, I was sometimes disappointed that my script - which I thought was very good - was rejected by publishers. Later, when I was busy in my learning, there was a publisher interested in my script. Oversea publisher. But I'm not interested anymore. I have understood His plan. So this is now apparently -His plan- which turn out to be my way of sharing what I could do in dunya. 
So here's my gift for all kid in dunya. Let's look at the world simply. Because the greatest secret that is always sought by people all the time, is actually scattered in our daily lives, which we live with humbly.  
In simplicity the secret unfold.Because He bless.



Samarinda, 21 Juni 2017
Dharmaisra Shree Chandranaya Scekar Mayananda Bhairavi

Penggantian ongkos cetak -- reimbursement printing cost : Rp. 30.000,-

Thursday, March 16, 2017

Kitab - Scripture : Saptapadi


Aku menuntut Maha Guruku untuk mengajariku tata cara perkawinan yang benar karena sebelumnya aku juga sudah dituntut anakku yang paling besar yang kini sudah berusia 24 tahun, "Bagaimana kalau Pragyaa kawin nanti ma? Bagaimana caranya?"

Jadi dalam kitab ini semua dituliskan, apa yang seharusnya diucapkan, diikrarkan dalam sebuah upacara perkawinan oleh mereka yang menjalankan ajaran Dharma. Agar perkawinan kembali pada kedudukannya sebagai tanda ikatan suci dari laki-laki dan wanita yang berguna untuk memudahkan jalan dalam mengarungi hidup di dunya. Bisa mendapat kebahagiaan, bisa mudah meraih tujuan hidup bersama-sama pasangan. Asal......segala kewajiban sebagai suami sebagai istri diketahui dan dijalankan.

Semua kewajiban utama baik bagi suami maupun istri diikrarkan dalam upacara perkawinan seperti yang tertulis dalam saptapadi ini.

Pasangan-pasangan yang mengucapkan saptapadi dalam upacara perkawinan mereka akan mudah menjalani hidup, akan langgeng rumah tangga mereka, dan apabila mereka juga selalu mampu pasrah pada kehendak yang memiliki hidup, perlahan tujuan hidup masing-masing pun akan mampu diraih juga.

Begitu besar manfaat dan sungguh mendatangkan kebahagiaan bagi pasangan-pasangan yang sudah mantap untuk melangsungkan perkawinan apabila dalam upacara perkawinan mereka saptapadi diucapkan sebagai bagian ritual utama sebelum semua tradisi lainnya yang memang telah diterima sebagai warisan dilakukan. Awalilah hidup bersama ini dengan janji suci yang akan menjadi pengingat, yang akan memberi berkah sepanjang kehidupan dijalani bersama sebagai suami atau istri.

Dengan begini, aku telah menjawab pertanyaan anakku, dan dengan begini berarti aku juga telah memperbaharui ikatan perkawinanku dengan Suta Gati --suamiku.


I demand my Maha Guru to teach me the correct way for marriage ceremony because previously I've been asked by my oldest son who is now 24 years old, "Mom, how would I do my marriage ceremony in future? " 

So in this scripture all about marriage ceremony are written, what it should be pronounced, what to swore in a marriage ceremony by those who run dharma in their life. So marriage would be a sign of the sacred bond of man and woman once more, which very useful to smooth the way in going through life in dunya. Happiness would achieved, and  the purpose of life would be easily obtained  by living together as a couple. As long as ...... all obligation as husband and wife are known and done. 

All the main obligation both of husband and wife swore in the marriage ceremony have been written in this saptapadi. 

Couples who say swore in their marriage ceremony would be easy to make living, their household will be lasting, and if they are always able to surrender to the will of God, slowly life goal would be able to achieve as well by both of them. 

So many benefit which bring happiness to couples that have stable to enter into marriage if the marriage ceremony told saptapadi as part of a major ritual before all other tradition that has been accepted as an inheritance be held. Begin living together with a sacred promise would become a reminder, which will give a blessing throughout the life live together as husband or wife. 

By this way, I could answer my son's question, and I also have had renew my marriage with Suta Gati --my husband

Sham mo Dham yah __|.
 

Samarinda, 21 Juni 2017
Dharmaisra Shree Chandranaya Scekar Mayananda Bhairavi

** Penggantian ongkos cetak -- reimbursement printing cost : Rp. 10.000,-

Kitab -- Scripture : Pengalamanku Berguru Pada Guru Niskala -- My Experience Learning To Guru Niskala


 Dalam kitab ini kukisahkan pengalamanku selama 5 tahun lebih berguru pada Maha Guruku dan Guruku Berdua. Pengalamanku ini akan berguna bagi siapapun yang juga berguru pada guru niskala. Dan aku kisahkan pengalamanku ini atas ijin dan kehendak Maha Guruku. Dan siapapun juga yang 'bersentuhan' dengan buku ini, dan percaya -berbahagialah. Berarti memang sudah 'waktunya' untuk membaca. Dan semoga berkahNya membuat segala usaha yang dilakukan memberi hasil seperti seharusnya.


Dalam buku ini --dan dalam semua kitab atau kitab suci yang kutuliskan-- selalu ada peringatan agar siapapun yang membaca, boleh percaya atau tidak percaya atas apa yang kutuliskan, tapi seharusnya tidak menghina. Pasti ada saja yang berpikir aku sombong dan menilai diri sendiri terlalu tinggi. Sungguh tidak. Aku sendiri jujur saja merasa tidak nyaman menuliskan peringatan ini lagi dan lagi dalam seluruh buku dan kitab yang kutuliskan. Tapi, tetap saja semua harus kutuliskan, apa adanya, kata perkata, seperti yang Maha Guruku kehendaki. Aku tidak bisa menentangNya. Karena memang tidak seharusnya setiap orang menentangNya. Karena itu aku juga tidak mau sekalipun menentang Maha Guruku. Peringatan yang berulang-ulang dituliskan sesungguhnya adalah peringatan dari Maha Guruku sendiri. Agar semua orang terlindungi, agar Dharma ditegakkan karenanya (dan percayakah jika kukatakan bahwa untuk memahami kalimat yang terakhir ini aku perlu 3 tahun --3 TAHUN !-- untuk sungguh-sungguh memahaminya).

Jadi...demikianlah.

In this book I told my experience for over 5 years learning to my Maha Guru and Both my Guru. This experience would be useful for everyone who also learning to guru niskala (noetic guru). And I have written my experience by the Permission and Will of my Maha Guru. And anyone who 'in touch' with this book, and believe -be happy. Then indeed it is 'time' to read. And may the blessing makes all the efforts made would give the result as it should. 

In this book --and all books or scriptures or holy scriptures I wrote-- anyone would always read warning , that anyone could believe or not believe in what I wrote, but one should not be outrageous. Sure there must be some who think I'm arrogant and judge myself too high. It's not. I myself honestly feel uncomfortable have to write this warning again and again throughout all books and scriptures I wrote. Still, I have to write this warning, word by word as my Maha Guru Wish. I can not against Him. Because it is not supposed anyone against Him. And because I do not want against my Maha Guru. Repeated warning written in all my books and scriptures actually a direct warning from my Maha Guru Himself. So everyone would be protected, and dharma run according righteous (and believe me if I say, that to understand this last sentence I need three year --3 YEAR! - just so I could truly understand it). 

That's all
 
Samarinda, 21 Juni 2017
Dharmaisra Shree Chandranaya Scekar Mayananda Bhairavi

** Penggantian ongkos cetak - reimbursement printing cost ; Rp 30.000,-

Buku -- Book : Perjalananku Mencari Tuhan - My Journey To God



Buku ini adalah lanjutan - kesimpulan dari buku 'Pengalamanku Berguru Pada Guru Niskala'. Jadi benar-benar ringkas. Tapi sudah memberi gambaran besar dari perjalananku dalam mencariNya hingga aku berhasil menemukanNya, mengenalNya dan akhirnya memahamiNya.

Buku ini adalah kenang-kenanganku untuk dunya, untuk semua orang yang percaya bahwa Tuhan ada. Bahwa Tuhan sangat dekat dengan kita. Bahwa Tuhan sesungguhnya mudah ditemui. Dan bahwa Tuhan memang Baik.

Aku selalu menyertakan buku ini pada siapapun yang ingin membaca buku Pengalamanku Berguru Pada Guru Niskala karena sebenarnya 2 buku ini adalah satu kesatuan.

Dan aku berharap kenang-kenanganku ini dapat menjadi jalan juga bagi semua orang untuk memulai perjalanannya sendiri.

Karena Dia selalu memberkati.


This story is a continuation - conclusion of my previous book 'My Experience Learning To Guru Niskala'. So it short. But it give a great overview of my journey seek for Him until I managed to find Him, to know Him and finally understand Him.

This book is my memories for dunya, for all those who believe that God exist. That God is very close to us. That God really easy to find. And that God is Good.

I always include this book to anyone who want to read my book 'My Experience Learning To Guru Niskala' because in fact this 2 book are unity.

And I hope that my memories could become a route for all people who want to begin their own journey.


Because He always bless.



Samarinda, 21 Juni 2017
Dharmaisra Shree Chandranaya Scekar Mayananda Bhairavi

** Penggantian ongkos cetak -- reimbursement printing cost ; Rp. 10.000,-

Saturday, March 11, 2017

Kitab - Scripture : Manyangen Tatu Hiang


Manyangen Tatu Hiang, The Great Wisdom of The Holy Land of Indonesia  - Nyanyian Leluhur, Kebijaksanaan Agung di Tanah Klemantan adalah buku yang khusus kutuliskan untuk saudara-saudara Kaharinganku di Klemantan.

Aku 'mendengar' seluruh kisah yang kemudian kutuliskan dalam kitab ini dari Ranying Hatala. Sesungguhnya dengan mendengarkan kisah ini pula aku kemudian makin mampu mengenal Ranying Hatala, Ranying Hatala Langit, Raja Bunu dan Bawin Jata Balawang Bulau. Dengan mendengarkan kisah ini juga aku kemudian mengenal Ranying Hatala dalam wujudNya yang lain dalam berbagai tradisi di berbagai belahan dunia. Tapi lewat tradisi Kaharinganlah aku mudah menemukan jalan untuk mengenaliNya dalam tradisi lain yang berbeda itu karena Dia disebut dengan nama yang berbeda pada tradisi yang berbeda.

Jadi kitab Manyangen ini kutuliskan sebagai caraku belajar, caraku berbagi dan caraku juga untuk menjalankan tugas yang Ranying Hatala berikan padaku, yaitu menyampaikan kembali semua yang telah diajarkanNya padaku- tidak kurang tidak lebih pada mereka yang masih mau percaya pada Ranying Hatala.

Aku sudah menyampaikan kitab ini pada saudara Kaharinganku, meskipun belum versi finale-nya. Aku selalu menuliskan pengalamanku, pemahamanku. Saat pengalamanku bertambah dan pemahamanku makin sempurna, kitab ini ikut berubah. Tapi Ranying Hatala sudah mengijinkan aku membagi kitab ini sekarang, jadi tidak ada yang akan kurubah lagi. Apakah mereka akan percaya atau tidak itu adalah pilihan mereka. Tugasku untuk menuliskan dan menyampaikan sudah selesai. Walau begitu mereka yang bukan berasal dari tradisi Kaharinganpun sesungguhnya bisa belajar dari kitab ini. Kalau mau...

Orang Kaharingan sesungguhnya sangat dekat dengan Tuhan Sang Pencipta. Mereka menyebutNya Ranying Hatala. Dan Ranying Hatala selalu bersama ShaktiNya Ranying Hatala Langit.  Jadi, aku selalu berpikir bahwa orang Kaharingan sungguh beruntung karena begitu dekat denganNya, sehingga kisah-kisah yang sampai pada merekapun bermula dari sejak saat Ranying Hatala menciptakan semesta seperti yang tertuang dalam kitab suci mereka Panaturan. Tapi di masa sekarang aku juga sering merasa sedih karena begitu banyak saudara Kaharinganku yang menjadi ragu dan bingung dengan tradisi mereka sendiri karena membandingkannya dengan tradisi Hindu Bali (yang menjadi wadah Kaharingan bernaung secara administrasi negara) atau jika mereka membandingkan tradisi mereka dengan tradisi Hindu India yang begitu lengkap sastra tulisnya.

Kebingungan yang akan membuahkan ketidakteguhan dan berujung pada ketidaksetiaan pada tradisinya sendiri. Kebingungan yang akan membuang segala manfaat dan berkah yang sesungguhnya sangat mudah mereka terima langsung dari Ranying Hatala karena hubungan mereka yang sangat dekat itu. Kedekatan yang dijembatani oleh Leluhur manusia yang mereka masih kenal baik dan mereka sebut Raja Bunu. Sehingga hingga saat inipun mereka tetap menyebut diri mereka Utus Raja Bunu --anak cucu Raja Bunu.

Akupun menyebut diriku Utus Raja Bunu, karena aku yakin dengan semua yang sudah kupahami ini, aku menerima Raja Bunu sebagai Leluhur manusia dan aku percaya dan yakin pada Ranying Hatala dan Ranying Hatala Langit.

Begitu banyak yang bisa dituangkan, begitu banyak yang ingin kubagikan, tapi tidak selalu niat baik berbuah baik. Biasanya malah mendatangkan akibat yang tidak diinginkan. Jadi, seperti biasa, pilihan kembali kuserahkan pada para pembaca...hehehe....itupun kalau ada yang mau membacaya, maksudku kalau ada manusia yang mau membacanya.

Kalau tidak, aku tetap bahagia. Karena lewat jalan inilah aku mengenal Mahaguruku sebaik-baiknya, dan juga mengenal Guruku Mahadeva dalam segala wujud dan roopa Mereka yang dikenal segala makhluk di seluruh dunya.


Manyangen Tatu Hiang, The Great Wisdom of The Holy Land of Indonesia -  is a special scripture that I wrote to my Kaharingan brother in Klemantan.

I 'heard' the whole story later I wrote in this scripture from Ranying Hatala. Indeed, by listening to this story anyway I then more able to know Ranying Hatala and Ranying Hatala Langit, Raja Bunu and Bawin Jata Balawang Bulau. By listening to this story I then knew Ranying Hatala in His many roopa in various tradition in different part of the world.  


By learning Kaharingan tradition I could easily find my way to know Him and recognize Him in many tradition because in other tradition He would be called by different name and known by different roopa. 

So this scripture I wrote actually is my way of learning, my way of sharing and also my way to fulfill my duty Ranying Hatala give me, to teach all He taught me-no less no more-- to those who still want to believe in Ranying Hatala. 

I have send this scripture to my Kaharingan brother, though not in the finale version yet. I always wrote my experience, my understanding. When my experience and my understanding grew ever more perfect, this scripture also have to changed. But Ranying Hatala has allowed me to divide this book right now, so there would not be changes again. Are they going to believe it or not is their choice. My duty was to write and deliver to them when it finished. Even so they not derived from actual Kaharingan tradition could learn from this scripture. If they want... 

Kaharingan people actually very close to God the Creator. They call Him Ranying Hatala. And He always with His Shakti --Ranying Hatala Langit. So, I always think that Kaharingan people really lucky because they so close to Him, so that the stories from the begining Ranying Hatala create the universe they knew by reading their holy scripture Panaturan. But at present I often feel sad because so many my Kaharingan brother were skeptical and confused with their own tradition if they compare their tradition with the tradition of Hindu Bali (Kaharingan are under the auspices of Hindu Bali)   or if they compare their tradition with the tradition of Hindu India which so full of written literature. Which will lead to confusion and unreliability of disloyalty to their own tradition. The confusion that would give away all the benefit and blessing which actually very easy they receive directly from Ranying Hatala because their relationship are so close. Proximity bridged by human ancestor that they still knew well, and they call Him Raja Bunu. So until this very day they still call themselves Utus Raja Bunu -- the legacy of Raja Bunu. 

I also call myself Utus Raja Bunu, because I believe as I understand all of this. I accept Raja Bunu as human ancestor and I believe and trust in Ranying Hatala and Ranying Hatala Langit.

 So much to be poured out, so much I want to share, but not always good will give good fruition. Usually even bring unwanted consequences. So, as usual, if there any who want to read this scripture then it become their choice (to believe or not) ... hehehe ....  I mean my 'people reader' . 

Whatsoever,, I would still be happy. Because through this way then I knew my Maha Guru as best as possible, and also knew my Both Guru Mahadeva in every roopa. They all are known to every creature in the entire dunya.

Sahi.


Samarinda, 11 Maret 2017
Dharmaisra Shree Chandranaya Scekar Mayananda Bhairavi



** Penggantian ongkos cetak -- reimbursement printing cost : Rp. 40.000,-

Sunday, February 8, 2015

Tradisi Cheena


Kitab ini kutuliskan untuk saudaraku yang berasal dari tradisi Cheena (baca: China) walaupun sesungguhnya siapa saja boleh juga membacanya dan coba menjalankan tradisi ini juga. Karena tradisi yang dituliskan di sini --hanya 3-- adalah tradisi yang mudah sekali dijalankan, mudah sekali dilakukan tetapi manfaatnya luar biasa besar. Tradisi sederhana yang hanya membawa kegembiraan dan kebahagiaan dalam hidup apabila yang melakukan paham apa makna dari semua yang dilakukannya.

Aku menuliskan tradisi ini --maksudku Guruku mengajarkan dan menyuruhku menuliskan beberapa tradisi Cheena yang sederhana ini karena aku selama ini bingung bagaimana cara mendoakan orang tuaku yang sudah tiada dengan cara yang paling sederhana dan mudah. Aku juga kadang bertanya-tanya di dalam hati saat melihat orang dari tradisi yang berbeda dari yang kukenal sedang menjalankan tradisinya. Ada satu dua hal yang sering kurasa 'tidak benar'. Perasaan itu membuat Guruku mengajarkan hal ini padaku. Apa yang benar dari yang kurasakan tidak benar itu. Dan inilah dalam kitab ini kutuliskan.

Aku sendiri menjalankannya, karena bagiku mudah dan aku benar-benar yakin dan paham juga manfaatnya. Semoga saudara-saudaraku yang berasal dari tradisi ini pun memperoleh jalan untuk mengetahui kembali bagaimana seharusnya melakukan tradisi mereka secara benar. Semoga berkahNya selalu mengalir. 
 
Dan bagi saudara Dharma-ku yang bukan berasal dari tradisi Cheena, tidak ada salahnya membaca, mempelajari atau malah melakoninya. Prinsip dasar, kebenaran dasarnya tetap sama. Maka, inilah kitab ini kupersembahkan bagi semua saudara Dharmaku yang percaya.
 
Samarinda, 8 Pebruari 2015
Shree Chandranaya Scekar Mayananda